Dosen STIT Pringsewu Ikuti Konferensi Pengembangan Pendidikan Islam

By Admin STIT 04 Des 2022, 08:12:42 WIB Pengabdian Masyarakat
Dosen STIT Pringsewu Ikuti Konferensi Pengembangan Pendidikan Islam

Keterangan Gambar : Konferensi Ilmiah Yogyakarta


Sejumlah dosen Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Pringsewu mengikuti Konferensi Ilmiah Strategi Pengembangan Pendidikan Islam di Yogyakarta, (30/11/2022. Mereka menyajikan berbagai topik hasil penelitian terkait pengembangan pendidikan Islam, baik di sekolah atau madrasah, perguruan tinggi, maupun pesantren. Konferensi Ilmiah ini sangat menarik dalam rangka menemukenali problematika dan memberikan saran serta solusi strategis dalam menghadapi berbagai tantangan masa depan.

Ketua STIT Pringsewu Dwi Rohmadi Mustofa, M.Pd., di Yogyakarta mengatakan, para dosen memiliki tanggung jawab memberikan kontribusi pengembangan keilmuan, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Pengembangan ilmu pengetahuan dapat dilakukan melalui berbagai aktivitas penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Konferensi seperti ini merupakan media diseminasi hasil-hasil penelitian dan wujud tanggung jawab insan akademik terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Kami mendukung para dosen melakukan penelitian dan mengikuti berbagai forum ilmiah,” ujarnya.

Baca Lainnya :

Sedangkan dalam konferensi, Dr. Moh. Masrur dan Nurhadi Kusuma, memaparkan hasil penelitian tentang Evaluasi Program Tahfizh Berbasis Aplikasi. Hasil penelitian ini menunjukkan, evaluasi program tahfizh melalui aplikasi lebih efektivitas dan menyajikan data yang lebih komprehensif, sehingga sangat membantu bagi lembaga dalam merancang program pendidikan maupun pengelolaan program tahfizh. “Era digital dan terus bertumbuhnya pengguna android harus disikapi dengan memberikan kemudahan akses dalam melakukan evaluasi program tahfizh di pesantren,” tutur Masrur.

Topik Reputasi Perguruan Tinggi dan Pengembangan Sumber Daya Manusia yang menegaskan bahwa civitas akademika merupakan intelektual memiliki tanggung jawab memberikan kontribusi ide atau gagasan yang bermanfaat bagi masyarakat, bangsa, dan umat manusia. Dalam perkembangannya terkini, pengelolaan perguruan tinggi harus memadukan antara tekbnologi atau digitalisasi dan tata kelola yang adaptif. Reputasi kampus, kata Salamun, menjadi nyata apabila sumber daya manusia yang ada di dalamnya terus dikembangkan kapasitas dan kompetensinya.  “Pengembangan sumber daya ini bisa melalui jalur pendidikan formal maupun informal,” ujarnya.

Dr. Abdul Hamid dan Muhtarom, M.Sc., mengangkat topik Tantangan Pengembangan Pesantren di Era Milenial. Saat ini tantangan pesantren mencakup, pertama kuatnya pengaruh globalisasi dan kecenderungan pengelolaan secara lokal. Kedua, adanya tuntutan pengelolaan secara universal dan berhadapan dengan model individual; ketiga, adanya tantangan tradisi dan modernitas. Tantangan keempat yakni, model kompetisi dan model kebersamaan dalam mengelola pesantren, dan kelima, munculnya sikap spiritualisme berhadap-hadapan dengan sikap materialisme. “Menghadapi tantangan demikian, pesantren harus tetap memberikan respon positif dan solutif tanpa mengurung diri. Pendidikan Islam harus tetap inklusif dan memiliki karakter,” ucap Hamid.

Selain tim peneliti tersebut, presenter yang berasal dari STIT Pringsewu dalam Konferensi Ilmiah ini adalah Muh. Idris, M.Pd.I., dan Syeh Al Ngarifin, M.Pd.I. yang mempresentasikan hasil penelitian tentang Digitalisasi Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, serta Dr. Ihsan Mustofa, dan Dr. Aliyah Mantik dengan topik presentasi Strategi Menghidupkan Nilai (Living Values). (*)




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment